keluh

langit2 kamarku yang sudah gelap setelah lampu padam. aku belum terlelap dan pikiranku masih jauh melanglang buana. seorang temanku sudah jauh terlelap mengarungi lautan mimpinya. aku terus saja memikirkan percakapan kami sebelum tidur kala itu.

aku memang sudah 22 tahun,tapi ada sebuah titik dimana aku merasa aku belum matang benar pikirannya dalam menghadapi sesuatu atau apapun, dan salah satunya adalah percakapan kami. salah satunya adalah mengeluh.

seseorang yang sudah matang dalam pemikirannya seharusnya tidak akan mengeluarkan sepatahkatapun keluhan ketika sesuatu terjadi, seharusnya tidak menyesali apapun yang sudah dijalani melainkan mengambil sisi positifnya.

aku ingin menjadi lebih dewasa, tanpa mengeluh, tanpa menyesali apapun. 

bentuk kebodohan kecil

aku gelisah sejak kemarin malam, hanya menggulingkan badanku ke kiri dan kanan ranjang tanpa melakukan apapun. berusaha untuk tertidur namun tetap saja mataku seakan enggan untuk terpejam ditambah adrenalin detak jantungku kian tak stabil berdetak. ya malam ini aku menanti sebuah pengumuman untuk langkah kedepan. lama sekali.. desahku.

ribuan domba telah kuhitung hingga akhirnya aku berhasil melewati malam ini dengan lelapnya meskipun jam sudah memberitahukan bahwa malam telah digantikan subuh hingga akhirnya aku kembali terjaga di pagi menjelang tengah hari. segera aku memeriksa yang kunanti namun tetap saja nihil. 
mulutku seakan tak bisa menahan diri untuk tidak mengeluh.. lama sekali..

aku tidak melakukan apa2 selain bergelut dalam ruang 3x4,5 meter ini. hanya berbaring duduk, menatap layar hingga kembali berbaring. entah mengapa penantian ini terasa begitu lama dan menyiksa.

matahari sudah menyerah digantikan malam gelap, aku masih di rang yang sama, semakin gelisah namun belum juga ada tanda2 berita itu akan datang. kesal? sangat.

gelisah semakin gelisah aku menyadari sesuatu. aku belum mandi. 

sekian.

dan pada akhirnya aku hanya tertawa.

suatu hari aku sedang duduk sendiri di sebuah stand penjual kopi di sebuah pusat perbelanjaan. aku duduk sendiri dengan buku gambar milikku. kala itu aku sedang fokus menggoreskan guratan pensil di buku milikku dan tersadar ketika seseorang  mengambil tempat di meja di hadapanku. situasi pada saat itu memang agak sedikit sepi jadi cukup wajar ketika ada orang yang duduk di meja seberang menjadi sedikit mencuri perhatian. 
orang itu cukup menarik dengan gaya berpakaian yang sederhana. aku berusaha untuk tidak menggubris apapun dan kembali melanjutkan skech milikku. namun cukup aneh memang karena tanpa sadar aku dan dia beberapa kali melakukan kontak mata, sepertinya ia cukup penasaran dengan apa yang kukerjakan. itu menurutku, namun kenyataannya aku tidak tahu. aku lagi lagi berusahan fokus mengerjakan sketsa milikku, namun disela2 pengerjaannya terlintas beberapa scene film hollywood  di kepalaku. jika di film mungkin bisa aku pasti sudah tersenyum dan menghampiri orang tersebut, memulai dengan perkenalan lalu bertukar nomor ponsel dan berlanjut hingga seterusnya.

namun pada kenyataannya kami hanya 2 orang yang tidak saling mengenal, dan sampai aku memutuskan untuk pergi dari tempat itu kami hanya melakukan kontak mata dan berakhir begitu saja. di perjalanan pulang aku hanya bisa tersenyum saja dan tertawa kecil. ternyata film berdurasi 2 jam cukup bisa mempengaruhi hidup seseorang. namun harus kita sadari, film tetaplah film, kenyataan tak bisa disamakan dengan itu.

ketika hal yang tidak perlu dibesar besarkan dan hal yang harusnya direbak seakan tidak terendus sama sekali. media saat ini seakan menjadi lelucon.

– keritingbuncit

terima kasih

bahkan sampai sekarang senyum lebar belum bisa lepas dari wajahku.. entah mengapa euforia yang terasa saat ini begitu besarnya.

pernahkah kalian merasakan betapa dukungan dari semua orang yang kalian sayangi sayangi begitu berarti dan sangat membantu dalam pencapaian yang ingin kalian raih? tentu saja sudah pernah. dan kali ini entah mengapa meskipun aku sudah merasakan beribu2 pencapaian kecil, namun kali ini begitu memberi imbas yang sangat besar bagiku. terlebih kali ini aku sangat percaya akan besarnya kekuatan doa, meskipun lagi lagi aku sudah ribuan kali mengalaminya sendiri.

sebut saja hal tersebut adalah sebuah jurang lebar, dimana kau tidak ada pilihan lain selain melewati jurang itu. kita pasti merasa sangat kecil dan tidak percaya bahwa kita pasti bisa melewatinya. namun doa dapat diibaratkan sebagai pegas tambahan di kakimu yang membantu menambah jarak lompatanmu ke depan. dan tidak bisa kita pungkiri rasa optimis kita akan membantu. namun jangan lupa bahwa ada 1 tangan besar yang membantu mengangkat tubuhmu ketika melompati jurang itu. tangan itu adalah Tuhan.
aku bukan ingin menjadi orang yang sok rohani namun kuasa besar yang membantuku dalam melewati jurang itu benar benar terasa. bahkan ketika aku sendiri merasa aku tidak mampu melewatinya. 

orang mungkin akan berspekulasi mengenai doa, dengan dalih itu hanyalah sebuah sugesti. namun terlepas dari benar atau tidaknya itu aku benar2 merasakannya. ucapan dan pengharapan yang kita sampaikan pasti didengarkan terlebih jika kita memintanya dengan tulus.

aku mengucapkan syukur kepada Tuhanku, kepada ibuku, kepada saudara dan saudariku, kepada teman2ku, kepada orang yang sudah ikut mendoakanku.  

dengan hasil yang sudah ada, dan apapun yang akan terjadi kedepan aku percaya semua sudah tersurat dan sudah diatur dengan indahnya. suka duka, senang maupun susah itu hanyalah sebuah fase untuk menjadi orang yang lebih baik. :)

pagi menuju tengah hari
langit mendung kelabu menyembunyikan kegagahan sang penguasa siang
dari balik jendela kamar kecil ini terus kutatap langit kosong
akan seperti apakah aku beberapa tahun dari detik ini?
bumi sebelah manakah yang akan kupijak menatap langit yang sama beberapa tahun dari sekarang?
aku penasaran :)

kutatap lama gambar yang baru saja kuselesaikan setelah mengirimkannya ke media sosial. aku hanya bisa merenung menikmati kepakan sayap pikiranku yang kian jauh melanglang buana hingga akhirnya mendarat di sebuah memori menyakitkan.
dengan agak keras kututup sketchbook milikku, pergi dari pikiranku..
tak terhitung jumlah rokok yang kuhabiskan untuk melewati malam kelam yang bahkan belum berakhir ini, bahkan memaksa mataku untuk terpejam menjadi mustahil. sunyi malam begitu menyiksa seakan membuka kembali memori itu. aku belum rela..
urutan lagu malam ini juga seakan ikut bekerja sama membisik telingaku menambah perihnya. “sampai kapan? sampai kapan aku harus begini? sampai kapan kau betah bertengger di kepalaku.. tolong pergi..” ucapku pelan.
kusandarkan punggungku di tepi ranjang, mendengarkan lagu dan meresapi setiap kata yang diucapkan pelantunnya.. topeng tebal yang kupasang setiap hari terlepas sudah. riang tanpa masalah lenyap menjadi sendiri, kosong, dan perih.
siklus malam menyiksa yang aku sendiri tidak tahu sampai kapan akan terus berjalan. jujur aku lelah..

saatnya kita bersuara

menikmati secangkir kopi sendirian di sebuah kedai kopi dikala menunggu kedatangan teman, aku duduk sendiri menyesap sedikit demi sedikit kopi hitam yang audah kupesan.
sambil menghisap sebatang rokok yang terselip di tanganku aku membuka media sosial dunia maya agar tidak terlampau bosan.
belakangan memang tak jarang orang2 begitu aktif terlibat dalam mengomentari isu2 yang ada termasuk aku. sedikit tergelitik juga, karena tak jarang juga kita hanya berkoar tanpa berbuat sesuatu.

ironis memang, entah karena dunia maya merupakan satu-satunya wadah dimana orang bisa mengeluarkan keluhannya atas sesuatu sedangkan sebenarnya sudah ada wadah dimana masyarakat bisa menampung aspirasi.
namun lebih ironisya lagi adalah wadah resmi yang seharusnya menampung aspirasi tersebut justru tidak bekerja dan menanggapi apapun sebagaimana mestinya, entah hal tersebut disebabkan oleh pihak atas yang tidak ingin memberikan perhatian atas keluhan tersebut karena sudah berada di zona yang sangat nyaman hingga cenderung tidak perduli dengan suara rakyat, ataupun karena mereka memang benar2 tidak perduli.
aku memang masih sangat hijau mengenai hukum, politik, kemanusiaan, dan sebagainya. namun terkadang aku cenderung agak setuju dengan pendapat beberapa teman di dunia maya dimana mereka mengomentari sikap negara dalam menegakkan hukum yang ada.
hitam? putih? tepatnya abu2. mengapa? karena hukum itu sendiri, bagi yang sudah mengetahui jelas bagaimana cara kerjanya pasti menemukan celah dari setiap permasalahan.
contoh kecilnya mengenai 2 kasus. yang pertama adalah seorang anak dibawah umur yang mengendarai kendaraan bermotor dan mengalami kecelakaan hingga merenggut nyawa orang yang hanya dihukum dengan masa percobaan, sedangkan seorang anak kecil yang ketahuan mencuri kerupuk harus dihukum penjara selama 2 bulan lebih.
kasus sejenis juga pernah marak terjadi yaitu mengenai timpangnya masa hukuman atas beberapa orang.
saya tidak paham mengenai konsep ini, jadi saya hanya memandang dari kacamata orang awam dalam hukum. jika dilihat dari segi adil tidaknya sudah cukup jelas kelihatan bahwa ketimpangan masa hukuman sangatlah tidak adil. namun saya ingin tahu mengenai undang2 yang mengatur kasus tersebut.

di dunia maya orang sibuk berkoar2 mengenai keadilan penegakan hukum, namun pihak yang berwenang seakan menutup mata dan telinga atas kejadian tersebut.
dan sangat disayangkan adalah aspirasi tersebut seakan hilang begitu saja ditelan waktu.
jadi bagaimana dan kemana kita harus memproses semua ketidak adilan itu? saya sendiri tidak tahu.
menurut saya jika dikatakan negara ini penuh dengan orang2 bodoh tidak sepenuhnya benar. pada kenyataannya cukup banyak orang pintar di negara ini yang hanya mementingkan sesuatu yang menguntungkan mereka dan orang2 pintar yang mulutnya dipaksa tertutup sehingga mereka terkadang mendukung sesuatu yang salah karena bisa jadi satu2nya cara mereka untuk bisa berbicara adalah dengan menempuh pilihan yang salah itu.

mengapa saya mengangkat topik ini? jujur saya hanya ingin hidup di negara yang sejahtera dan adil seperti pada dasar negara ini. meskipun utopis karena tali kekang pada setiap orang oleh politik sudah cukup banyak dan kencang, namun saya yakin harapan itu suatu saat bisa terwujud, entah di dunia atau terwujud di alam baka kelak. aku akhirnya hanya tersenyum kecil dan menyesap kopi hitam pesananku, semoga saja. :)

apapun keputusan yang kuambil akan menjadi tanggung jawabku.
hidupku adalah hidupku, bukan hidup siapapun.