H-2

sepertinya hubungan spesialku dengan malam semakin menjadi2.

aku sudah tidak bisa mengingat lagi kapan terakhir kali aku terlelap pada jam yang seharusnya. aku terjaga ketika orang lain sedang mendayung perahu di lautan mimpi. pagi serasa memuakkan, matahari menjadi terlalu silau bagiku, dan senja menjadi momen paling menyenangkan.
apa yang menjadi pemicu semua ini aku sendiri belum mengetahui pasti, namun sepertinya hubungan spesialku dengan insomnia dan kehidupan nocturnal seakan terjalin semakin erat dan tak bisa lepas lagi. 

dan sialnya aku menikmati siklus baruku meski tubuhku sendiri sudah menunjukkan peringatan bahwa ini tidaklah alami.
lapisan dibawah mata menunjukkan perubahan yang signifikan melalui warna yang semakin gelap dan perbesaran volume, otak yang kurang sinkron ketika tengah hari sedang berjalan karena minimnya waktu tidur, dan yang etrakhir meski aku tidak bisa memastikan ini adalah perubahan yang baik atau buruk adalah berkurangnya massa tubuh.

aku sendiri tidak mengetahui sampai kapan siklus baru ini akan bertahan namun satu yang pasti kuketaui sebagai penyebab dari semua ini adalah karena aku kehilangan rutinitasku.

H-2 menuju tanggal setahun dimana negara ini sudah mengacaukan lingkaran rutinitasku dengan ketidakpastian. terima kasih banyak birokrasi.

Akhirnyaaa setelah telat datang 3 hari. buku bertandatangan mak suri @deelestari nomer 433 sudah di tangan. This really made my day. Oh my God… :)))))))))) – View on Path.

and the good thing is, the government gave us 365 days holiday before working.. yes„ a full year..

draft naskah 84 halaman masih super nanggung ga dilanjutin, udah nulis naskah baru lagi.. nasib emang jadi orang moody..:’)

stock kata-kata mulai menipis. sepertinya sudah saatnya memulai membaca lagi.

bagaikan sedang berdiri diatas sebuah panggung 1x1 meter persegi dan dikelilingi oleh mata2 yang memandang tajam, buasa seakan mencari dan menunggu kapan kau akan melakukan sesuatu yang salah. canggung? ya.

ketika kau mempunyai sebuah idealisme yang kau percaya dan kau pegang teguh, dan juga idealisme itu melibatkan bagaimana interakasimu dengan orang lain. ketika kau secara tidak sengaja melanggarnya maka kecanggungan yang sama akan terjadi, menghantui pikiran sampai hampir memutuskan benang saraf di kepala.

aku memang bodoh.
aku tidak tahu bagaimana kedepannya,bahkan untuk menegakkan kepala saja menjadi pekerjaan yang paling sulit untuk dilakukan. 
bodoh..

keluh

langit2 kamarku yang sudah gelap setelah lampu padam. aku belum terlelap dan pikiranku masih jauh melanglang buana. seorang temanku sudah jauh terlelap mengarungi lautan mimpinya. aku terus saja memikirkan percakapan kami sebelum tidur kala itu.

aku memang sudah 22 tahun,tapi ada sebuah titik dimana aku merasa aku belum matang benar pikirannya dalam menghadapi sesuatu atau apapun, dan salah satunya adalah percakapan kami. salah satunya adalah mengeluh.

seseorang yang sudah matang dalam pemikirannya seharusnya tidak akan mengeluarkan sepatahkatapun keluhan ketika sesuatu terjadi, seharusnya tidak menyesali apapun yang sudah dijalani melainkan mengambil sisi positifnya.

aku ingin menjadi lebih dewasa, tanpa mengeluh, tanpa menyesali apapun. 

bentuk kebodohan kecil

aku gelisah sejak kemarin malam, hanya menggulingkan badanku ke kiri dan kanan ranjang tanpa melakukan apapun. berusaha untuk tertidur namun tetap saja mataku seakan enggan untuk terpejam ditambah adrenalin detak jantungku kian tak stabil berdetak. ya malam ini aku menanti sebuah pengumuman untuk langkah kedepan. lama sekali.. desahku.

ribuan domba telah kuhitung hingga akhirnya aku berhasil melewati malam ini dengan lelapnya meskipun jam sudah memberitahukan bahwa malam telah digantikan subuh hingga akhirnya aku kembali terjaga di pagi menjelang tengah hari. segera aku memeriksa yang kunanti namun tetap saja nihil. 
mulutku seakan tak bisa menahan diri untuk tidak mengeluh.. lama sekali..

aku tidak melakukan apa2 selain bergelut dalam ruang 3x4,5 meter ini. hanya berbaring duduk, menatap layar hingga kembali berbaring. entah mengapa penantian ini terasa begitu lama dan menyiksa.

matahari sudah menyerah digantikan malam gelap, aku masih di rang yang sama, semakin gelisah namun belum juga ada tanda2 berita itu akan datang. kesal? sangat.

gelisah semakin gelisah aku menyadari sesuatu. aku belum mandi. 

sekian.

dan pada akhirnya aku hanya tertawa.

suatu hari aku sedang duduk sendiri di sebuah stand penjual kopi di sebuah pusat perbelanjaan. aku duduk sendiri dengan buku gambar milikku. kala itu aku sedang fokus menggoreskan guratan pensil di buku milikku dan tersadar ketika seseorang  mengambil tempat di meja di hadapanku. situasi pada saat itu memang agak sedikit sepi jadi cukup wajar ketika ada orang yang duduk di meja seberang menjadi sedikit mencuri perhatian. 
orang itu cukup menarik dengan gaya berpakaian yang sederhana. aku berusaha untuk tidak menggubris apapun dan kembali melanjutkan skech milikku. namun cukup aneh memang karena tanpa sadar aku dan dia beberapa kali melakukan kontak mata, sepertinya ia cukup penasaran dengan apa yang kukerjakan. itu menurutku, namun kenyataannya aku tidak tahu. aku lagi lagi berusahan fokus mengerjakan sketsa milikku, namun disela2 pengerjaannya terlintas beberapa scene film hollywood  di kepalaku. jika di film mungkin bisa aku pasti sudah tersenyum dan menghampiri orang tersebut, memulai dengan perkenalan lalu bertukar nomor ponsel dan berlanjut hingga seterusnya.

namun pada kenyataannya kami hanya 2 orang yang tidak saling mengenal, dan sampai aku memutuskan untuk pergi dari tempat itu kami hanya melakukan kontak mata dan berakhir begitu saja. di perjalanan pulang aku hanya bisa tersenyum saja dan tertawa kecil. ternyata film berdurasi 2 jam cukup bisa mempengaruhi hidup seseorang. namun harus kita sadari, film tetaplah film, kenyataan tak bisa disamakan dengan itu.

ketika hal yang tidak perlu dibesar besarkan dan hal yang harusnya direbak seakan tidak terendus sama sekali. media saat ini seakan menjadi lelucon.

– keritingbuncit