terima kasih

bahkan sampai sekarang senyum lebar belum bisa lepas dari wajahku.. entah mengapa euforia yang terasa saat ini begitu besarnya.

pernahkah kalian merasakan betapa dukungan dari semua orang yang kalian sayangi sayangi begitu berarti dan sangat membantu dalam pencapaian yang ingin kalian raih? tentu saja sudah pernah. dan kali ini entah mengapa meskipun aku sudah merasakan beribu2 pencapaian kecil, namun kali ini begitu memberi imbas yang sangat besar bagiku. terlebih kali ini aku sangat percaya akan besarnya kekuatan doa, meskipun lagi lagi aku sudah ribuan kali mengalaminya sendiri.

sebut saja hal tersebut adalah sebuah jurang lebar, dimana kau tidak ada pilihan lain selain melewati jurang itu. kita pasti merasa sangat kecil dan tidak percaya bahwa kita pasti bisa melewatinya. namun doa dapat diibaratkan sebagai pegas tambahan di kakimu yang membantu menambah jarak lompatanmu ke depan. dan tidak bisa kita pungkiri rasa optimis kita akan membantu. namun jangan lupa bahwa ada 1 tangan besar yang membantu mengangkat tubuhmu ketika melompati jurang itu. tangan itu adalah Tuhan.
aku bukan ingin menjadi orang yang sok rohani namun kuasa besar yang membantuku dalam melewati jurang itu benar benar terasa. bahkan ketika aku sendiri merasa aku tidak mampu melewatinya. 

orang mungkin akan berspekulasi mengenai doa, dengan dalih itu hanyalah sebuah sugesti. namun terlepas dari benar atau tidaknya itu aku benar2 merasakannya. ucapan dan pengharapan yang kita sampaikan pasti didengarkan terlebih jika kita memintanya dengan tulus.

aku mengucapkan syukur kepada Tuhanku, kepada ibuku, kepada saudara dan saudariku, kepada teman2ku, kepada orang yang sudah ikut mendoakanku.  

dengan hasil yang sudah ada, dan apapun yang akan terjadi kedepan aku percaya semua sudah tersurat dan sudah diatur dengan indahnya. suka duka, senang maupun susah itu hanyalah sebuah fase untuk menjadi orang yang lebih baik. :)

pagi menuju tengah hari
langit mendung kelabu menyembunyikan kegagahan sang penguasa siang
dari balik jendela kamar kecil ini terus kutatap langit kosong
akan seperti apakah aku beberapa tahun dari detik ini?
bumi sebelah manakah yang akan kupijak menatap langit yang sama beberapa tahun dari sekarang?
aku penasaran :)

kutatap lama gambar yang baru saja kuselesaikan setelah mengirimkannya ke media sosial. aku hanya bisa merenung menikmati kepakan sayap pikiranku yang kian jauh melanglang buana hingga akhirnya mendarat di sebuah memori menyakitkan.
dengan agak keras kututup sketchbook milikku, pergi dari pikiranku..
tak terhitung jumlah rokok yang kuhabiskan untuk melewati malam kelam yang bahkan belum berakhir ini, bahkan memaksa mataku untuk terpejam menjadi mustahil. sunyi malam begitu menyiksa seakan membuka kembali memori itu. aku belum rela..
urutan lagu malam ini juga seakan ikut bekerja sama membisik telingaku menambah perihnya. “sampai kapan? sampai kapan aku harus begini? sampai kapan kau betah bertengger di kepalaku.. tolong pergi..” ucapku pelan.
kusandarkan punggungku di tepi ranjang, mendengarkan lagu dan meresapi setiap kata yang diucapkan pelantunnya.. topeng tebal yang kupasang setiap hari terlepas sudah. riang tanpa masalah lenyap menjadi sendiri, kosong, dan perih.
siklus malam menyiksa yang aku sendiri tidak tahu sampai kapan akan terus berjalan. jujur aku lelah..

saatnya kita bersuara

menikmati secangkir kopi sendirian di sebuah kedai kopi dikala menunggu kedatangan teman, aku duduk sendiri menyesap sedikit demi sedikit kopi hitam yang audah kupesan.
sambil menghisap sebatang rokok yang terselip di tanganku aku membuka media sosial dunia maya agar tidak terlampau bosan.
belakangan memang tak jarang orang2 begitu aktif terlibat dalam mengomentari isu2 yang ada termasuk aku. sedikit tergelitik juga, karena tak jarang juga kita hanya berkoar tanpa berbuat sesuatu.

ironis memang, entah karena dunia maya merupakan satu-satunya wadah dimana orang bisa mengeluarkan keluhannya atas sesuatu sedangkan sebenarnya sudah ada wadah dimana masyarakat bisa menampung aspirasi.
namun lebih ironisya lagi adalah wadah resmi yang seharusnya menampung aspirasi tersebut justru tidak bekerja dan menanggapi apapun sebagaimana mestinya, entah hal tersebut disebabkan oleh pihak atas yang tidak ingin memberikan perhatian atas keluhan tersebut karena sudah berada di zona yang sangat nyaman hingga cenderung tidak perduli dengan suara rakyat, ataupun karena mereka memang benar2 tidak perduli.
aku memang masih sangat hijau mengenai hukum, politik, kemanusiaan, dan sebagainya. namun terkadang aku cenderung agak setuju dengan pendapat beberapa teman di dunia maya dimana mereka mengomentari sikap negara dalam menegakkan hukum yang ada.
hitam? putih? tepatnya abu2. mengapa? karena hukum itu sendiri, bagi yang sudah mengetahui jelas bagaimana cara kerjanya pasti menemukan celah dari setiap permasalahan.
contoh kecilnya mengenai 2 kasus. yang pertama adalah seorang anak dibawah umur yang mengendarai kendaraan bermotor dan mengalami kecelakaan hingga merenggut nyawa orang yang hanya dihukum dengan masa percobaan, sedangkan seorang anak kecil yang ketahuan mencuri kerupuk harus dihukum penjara selama 2 bulan lebih.
kasus sejenis juga pernah marak terjadi yaitu mengenai timpangnya masa hukuman atas beberapa orang.
saya tidak paham mengenai konsep ini, jadi saya hanya memandang dari kacamata orang awam dalam hukum. jika dilihat dari segi adil tidaknya sudah cukup jelas kelihatan bahwa ketimpangan masa hukuman sangatlah tidak adil. namun saya ingin tahu mengenai undang2 yang mengatur kasus tersebut.

di dunia maya orang sibuk berkoar2 mengenai keadilan penegakan hukum, namun pihak yang berwenang seakan menutup mata dan telinga atas kejadian tersebut.
dan sangat disayangkan adalah aspirasi tersebut seakan hilang begitu saja ditelan waktu.
jadi bagaimana dan kemana kita harus memproses semua ketidak adilan itu? saya sendiri tidak tahu.
menurut saya jika dikatakan negara ini penuh dengan orang2 bodoh tidak sepenuhnya benar. pada kenyataannya cukup banyak orang pintar di negara ini yang hanya mementingkan sesuatu yang menguntungkan mereka dan orang2 pintar yang mulutnya dipaksa tertutup sehingga mereka terkadang mendukung sesuatu yang salah karena bisa jadi satu2nya cara mereka untuk bisa berbicara adalah dengan menempuh pilihan yang salah itu.

mengapa saya mengangkat topik ini? jujur saya hanya ingin hidup di negara yang sejahtera dan adil seperti pada dasar negara ini. meskipun utopis karena tali kekang pada setiap orang oleh politik sudah cukup banyak dan kencang, namun saya yakin harapan itu suatu saat bisa terwujud, entah di dunia atau terwujud di alam baka kelak. aku akhirnya hanya tersenyum kecil dan menyesap kopi hitam pesananku, semoga saja. :)

apapun keputusan yang kuambil akan menjadi tanggung jawabku.
hidupku adalah hidupku, bukan hidup siapapun.

budaya ‘latah’ cerminan kemunduran pola pikir

ada obrolan yang cukup menarik sore ini ketika aku dan dua orang teman di sebuah coffee shop mengenai isu2 politik dan perkembangan pemberitaan belakangan.
sore tadi kami memulai obrolan dengan candaan dan kehidupan setelah beberapa lama tidak berjumpa hingga akhirnya entah darimana obrolan bermuara mengenai isu politik dalam pemihan presiden saat ini, ideologi, bahkan pemberitaan tentang pergolakan dunia.
satu hal menarik yang membuat saya cukup menajamkan telinga dan pikiran adalah tentang sosial media yang mendapat andil cukup besar dalam penyebaran isu yang berkembang sebut saja path, twitter, maupun facebook dimana setiap anak muda pasti setidaknya memiliki 1 akun tersebut.
persebaran berita dalam dunia maya memang memiliki positif-negatif, bahkan pro dan kontra. karena kita tahu sendiri bahwa setiap orang memiliki kemerdekaan seluas2nya dalam menyuarakan apapun di jagad maya tersebut. tak jarang pula kita menemukan adanya selisih pendapat atas pernyataan seseorang hingga memanas dan pada akhirnya tidak memberikan kesimpulan atau bahkan perdamaian melainkan bentuk permusuhan. karena seharusnya kegiatan adu pendapat adalah menjadi sebuah diskusi yang menghasilkan kesatuan pikiran, namun pada praktiknya adalah sebuah debat dimana kita tahu debat tidak diakhiri dengan kesimpulan melainkan menjadi percekcokan yang lebih beaar karena adu lontar tersebut tidak ditengahi oleh seorang moderator.

kembali ke permasalahan utama. kita mengetahui bahwa di media sosial ataupun pemberitaan di dunia maya sangat cepat persebarannya dan entah mengapa saya berpikir hal tersebut bukannya mengubah pola pikir generasi muda belakangan atas mudahnya mendapatkan informasi terhadap sebuah berita atau kejadian melainkan kemunduran karena kebanyakan anak muda cenderung ‘latah’ dimana mereka hanya turut menyuarakan pendapat atau dukungan terhadap sesuatu tanpa memandang dari 2 sisi dan karena begitu vokalnya mereka cukup mudah teralihkan dengan isu tersebut sehingga mengabaikan pemberitaan lain yang memiliki dampak yang lebih besar terhadap kehidupan mereka kedepan. bukankah itu hal yang memalukan?

saya ambil sebuah contoh mengenai isu yang cukup marak belakangan. ada 3 kejadian besar yang terjadi di minggu terakhir yaitu mengenai pemilihan presiden, konflik palestina, dan revisi UU MD3 oleh DPR RI. mari kita bahas dengan melihat dari 2 sisi.

pemilihan presiden yang sudah terlaksana pada 9 juli kemarin. kita tahu sendiri ada 2 kubu yang cukup frontal dalam melontarkan dukungannya terhadap calon presiden mereka dan maraknya upaya menjelek2an kubublawan mereka.
indonesia adalah negara demokratis, adalah wajar kampanye dukungan atas masing2 calon dilaksanakan. namun yang menjadi masalah adalah begitu banyaknya postingan mengenai kejelekan masing2 kubu dilontarkan di dunia maya, dan begitu mudahnya orang terpancing untuk membalas dengan konentar ataupun postingan berisi kejelekan lainnya. jujur saya sendiri muak membaca postingan tersebut. kita tahu bahwa dalam pemilu di indonesia adalah LUBER JURDIL. yaitu langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.
seharusnya jika kita paham akan azas tersebut dan memiliki ketertarikan akan politik belakangan membuat kita semakin kritis. sebagai generasi muda yang ‘kelihatannya’ memiliki ketertarikan akan politik seharusnya kita tidak melontarkan debat tak berujung di situs tersebut melainkan mengambil bagian dalam mengawasi apakah ada kecurangan dalam pemungutan suara. karena kita tahu sendiri ada pihak yang tidak bertanggung jawab yang memanipulasi laporan dalam form C-1.

yang kedua adalah mengenai konflik di palestina. saya tidak akan berkomentar mengenai siapa yang salah atau siapa yang memulai. namun alangkah lebih baik jika kita terlebih dahulu membaca berita dari situs pemberitaan yang independen dimana mereka pasti menyorot dari kedua belah pihak. yang saya sayangkan adalah orang2 justru hanya mendukung 1 pihak yang katanya korban, membubuhkan hashtag pray for bla bla, mengirimkan foto maupun kata2 yang menurut saya sok bijak dan seakan2 sangat menderita, dan bahkan mencela pihak yang katanya menyerang tanpa alasan. saya sendiri bukannya tidak memiliki empati atas mereka, saya juga turut berbelasungkawa atas kejadian tersebut namun adalah lebih baik jika kita menelusuri lebih dalam sebelum berkomentar. karena tidak mungkin ada asap jika tidak ada api bukan?
yang sangat saya sayangkan adalah mengapa orang indonesia begitu cepat dalam mengumpulkan donasi ke negara tersebut dan cenderung sangat melimpah bahkan sampai bisa mendirikan rumah sakit disana sedangkan untuk mengumpulkan sumbangan bagi anak yatim dan kekurangan pangan dan fasilitas kesehatan di daerah tertinggal hampir tak pernah kedengaran? ironis bukan?
dan dari yang saya tangkap adalah orang2 sangat prihatin atas korban2 palestina karena kesamaan ‘sesuatu’ dimana indonesia merupakan negara mayoritas ‘sesuatu’ tersebut. ada pula yang menyuarakan isu kemanusiaan. katanya ‘jangan memandang afama dalam membantu kemanusiaan’. apakah penduduk tertinggal di indonesia yang seharusnya lebih membutuhkan pendidikan dan pelayanan kesehatan bukan manusia sehingga tidak perlu dibantu?

yang ketiga dan seharusnya paling penting namun sedikit terabaikan adalah mengenai revisi UU MD3. orang2 begitu latahnya menyuarakan 2 pemberitaan sebelumnya sehingga mengabaikan isu ini. dimana jika sampai uu ini disahkan maka demokrasi di indonesia hanyalah lelucon belaka.
saya sangat mohon jika anda perduli dengan negeri ini agar turut mengisi petisi penolakan revisi uu tersebut. petisi dapat diisi di situs www.change.org atau dapat dilihat di akun twitter @changeOrg_id
saya sudah ikut serta.


sebagai generasi muda yang sudah mengenyam pendidikan sudah seharusnya budaya latah tersebut kita sisihkan dan belajar untuk memandang sesuatu dari 2 sisi. tidak seharusnya kita ikut berkoar2 mengikuti arus keramaian tanpa mengetahui dengan jelas apa dan mengapa karena untuk mendapatkan informasi di era saat ini begitu mudah. kita jangan sampai menjadi padi kopong yang begitu mudahnya ikut aliran arus air. dengan mudahnya kita ikut arus sudah cukup menjadi bukti bahwa pemikiran kita mengalami kemunduran yang membahayakan.
saatnya kita lebih kritis dan dewasa dalam menghadapi sesuatu.

di akhir tulisan ini saya menekankan bahwa ini adalah pendapat saya atas kejadian belakangan. mungkin akan ada pro dan kontra dan saya yakin anda cukup dewasa menanggapi tulisan ini, cukul dicerna di pikiran masing2 dan tolong disikapi dengan cermat. saya hanya mengharapkan perubahan pola pikir ke arah yang lebih baik lagi. kita harus bangkit.

sekian
keritingbuncit

dunia itu… abu abu

pikiranku terus melanglang buana membayangkan sebuah keadaan disela2 pembicaraan jarak jauh yang kulakukan dengan seseorang pada malam ini. yang membuatku terpikirkan adalah ketika membaca sebuah kutipan singkat dari seseorang di dunia maya berkata demikian:

"a villain is just a victim whose story hasn’t been told"

kesimpulan sederhana namun cukup keras menampar siapa saja yang mungkin memikirkannya lebih jauh.
mengapa tidak? salah, mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah kenapa baru menyadari sekarang?

22 tahun sudah aku menghirup oksigen di permukaan bumi ini dan sepertinya semuanya sudah berada di jalurnya. dimana hampur semuanya sudah dirancang dan diciptakan dengan sempurna oleh para jenius di masa lampau mulai dari teknologi, hukum, maupun cara berpikir seperti filosofi hidup dalam menilai. jadi sedikit banyak aku mengikuti arus yang sudah ada saat ini.
namun belakangan mungkin karena otakku terkadang tidak bekerja pada tempatnya atau karena saking berada pada jalurnya sehingga pemikiran kita seakan sudah didominasi oleh doktrin2 para pendahulu yang menurut kita sudah benar namun bila ditelaah lagi, kita akan menemukan begitu banyaknya celah dan cacat dari semua aspek kehidupan kita, termasuk dalam memandang maupun menilai sesuatu.
salah satu jalur yang diciptakan pendahulu adalah dengan membuat hukum sebagai tolak ukur atas akibat dari pelanggaran yang sudah kita lakukan. mereka membentuk sebuah konstitusi peradilan yang mereka sebut dengan pengadilan dimana seorang hakim akan menentukan hukuman ataupun tidakan lanjut atas sebuah pelanggaran. tapi kali ini aku tidak akan membahas mengenai pengadilan maupun hukum karena jujur aku masih sangat dan terlalu hijau untuk berbicara mengenai hal tersebut.
hal yang akan kubahas adalah mengenai pola pikir kita akan menilai sesuatu apakah itu baik atau benar dan mengenai hal menghakimi.

dari kecil kita mungkin sudah cukup sering mendengar dongeng ataupun cerita2 fantasi dimana kisah tersebut diperankan oleh 2 pemeran penting yaitu protagonis yang identik sebagai pemeran utama yang baik hati dan selalu menang di akhir cerita dan juga pemeran antagonis yang selalu diisi oleh seseorang ataupun kelompok yang jahat, mengganggu, dan akan kalah pada akhir cerita. ada positifnya memang, karena mereka mengajarkan bahwa pada akhirnya kebaikanlah yang menang. sebut saja kisah2 fantasi yang populer seperti aurora, cinderella, beauty and the beast, hansel and gretel, harry potter, peterpan, dll. sudah bisa ditebak dari awal bahwa pemeran utama yang pada awal kisah menjalani kehidupan yang buruk dan menjadi pahlawan ataupun hidup bahagia selamanya di akhir kisah.
namun aku sedikit terhentak ketika membaca kutipan diatas. terlebih karena belakangan sebuah industri hiburan di bidang perfilman sedang gencar2nya mematahkan betapa dongeng itu hanya omong kosong jika dibandingkan dengan kehidupan nyata. karena kita tahu sendiri bahwa dunia bukanlah mengenai 1 orang saja tapi dunia adalah sebuah rangkaian kompleks dimana setiap kepala di dunia ini adalah pemeran utama.
nah, bagaimana bisa kita menilai seseorang jahat atau baik jika kita tidak menelisik latar belakangnya?
contoh kecil adalah pencuri. bagaimana mungkin kita masih bisa menyalahkan seorang pencuri jika kita akhirnya mengetahui alasan ia mencuri adalah karena keadaan yang memaksa demikian?
contoh berikutnya seperti yang ada pada kisah fantasi, mengapa para tokoh jahat menjadi jahat tanpa sebab dan memberi kesan tanpa alasan ia mengutuki dan menghancurkan hidup dari tokoh utama yang notabene adalah tokoh protagonis? seperti pepatah mengatakan tak mungkin ada asap kalau tak ada api. jadi cukup logis jika kita perlu mengetahui pasti ada alasan mengapa tokoh tersebut dianggap antagonis. dan jawaban yang paling tepat adalah karena kita hanya memandang cerita tersebut dari sisi tokoh protagonis saja. jika kita mengetahui kisah latar belakang dari si tokoh antagonis belum tentu kita masih berpendapat sama.

sedikit membingungkan memang, namun jika demikian maka kita tidak bisa selamanya menganggap yang jahat adalah jahat dan yang baik adalah baik. yang jahat bisa saja korban sedangkan yang baik bisa saja adalah tokoh egois dengan hati sekeras batu. semuanya tergantung dari sisi mana kita memandang. abu abu bukan?
jadi bagaimana kita harus menentukan seseorang itu baik atau jahat jika diaplikasikan ke kehidupan nyata? jawabanku adalah tidak perlu. kita bukan hakim kehidupan yang harus menilai kehidupan orang. dalam setiap agama juga diajarkan demikian bukan? pada waktunya akan ada hakim tunggal ataupun karma yang membalas setiap kebaikan dan keburukan apapun yang kita lakukan. jadi kesimpulannya adalah jalani hidup masing2 saja. semuanya abu abu.. dunia itu abu abu..

keritingbuncit

baru seminggu yang lalu kita bertemu dan melepas rindu.. kini rasa itu kembali membuncah ingin bertemu denganmu kembali..
aku ingin kembali duduk berdua denganmu di tempat itu.
tempat kita pertama kali duduk berdua..
menatap matamu, memperhatikan kontraksi otot wajahmu melengkungkan senyuman terindah yang masih terekam jelas di kepalaku.

aku rindu